[caption id="attachment_1055" align="aligncenter" width="500"] Ilustrasi (ist)[/caption]

JAKARTA, FS—Masyarakat khususnya kalangan menengah kebawah pada tahun ini diprediksi akan semakin sulit memiliki rumah. Pasalnya ada kecendrungan perbankan akan menaikkan suku bunga KPR.

Padahal belum lama ini, Bank Indonesia telah mengeluarkan kebijakan atau regulasi untuk menurunkan down payment (DP) KPR. Rupanya langkah ini dipandang sebelah mata oleh kalangan perbankan yang merasa berat bila harus menurunkan bunga KPR menjadi satu digit.

"Kembali ke suku bunga kredit KPR, tahun 2017 ini justru makin berat, karena bunga KPR diprediksi akan naik," kata Ekonom Indef Bhima Yudhistira, Kamis (30/3).

Menurut dia, meski Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga sebanyak 150 persen atau 1,5 persen dari tahun lalu, namun kalangan perbankan justru menahan diri. Suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) masih sulit turun.

Selain suku bunga kredit KPR dan uang muka pemilikan rumah yang masih terbilang tinggi, tak terkendalinya harga properti juga mendukung semakin sulitnya generasi milenial untuk memiliki tempat tinggal.

"Faktor lainnya memang harga tanah dan properti terus melambung tinggi. Tidak ada kontrol dari pemerintah terkait harga properti," tukasnya.

Kredit Macet Hantui Perbankan                                                              

Vice President Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan, lambatnya perbankan dalam merespons suku bunga acuan BI karena beberapa faktor. Antara lain, perbankan mengantisipasi rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL).

NPL untuk KPR masih relatif terjaga. NPL untuk KPR sendiri masih di bawah NPL industri perbankan sekitar 3 persen. Meski demikian, tren NPL KPR cenderung meningkat.

"Tahun lalu itu BI sudah turunkan 1,5 persen, KPR sekitar 70 basis poin atau 0,7 persen doang. Memang belum begitu besar, adjusment belum sebanding suku bunga BI," kata dia.

Faktor lain karena bank ingin menjaga likuiditas. Sebagaimana diketahui, KPR merupakan pendanaan untuk jangka panjang. Sementara sumber pendanaan perbankan sebagian besar jangka pendek.

"Kedua likuiditas, likuiditas bank masing-masing beda. Untuk likuiditas besar bisa mengelola KPR, kita tahu KPR long term financing. Sedangkan perbankan punya sumber pendanaan yang short term, deposito setahun, kalau pembiayaan rumah ini 15 tahun- 20 tahun. Jadi memang harus me-manage kalau kondisi likuiditas tak sebegitu bagus nggak akan terlalu ekspansi KPR," ungkapnya.

Adapun faktor yang mempengaruhi penurunan suku bunga ialah operasional bank itu sendiri. Pasti cost of fund kita lihat suku bunga acuan turun, masalah over head cost, risiko NPL.(dbs)

Posting Komentar