Lampung Tengah : Upaya melestarikan adat istiadat dan kebudayaan Lampung terus dilakukan Bupati Lampung Tengah DR. Ir. Mustafa. Bahkan pada kesempatan tertentu, bupati muda ini tidak sungkan untuk menari bersama para tokoh adat Lampung.

Seperti yang terlihat di perayaan begawi di Bandar Buyut Lampung Tengah belum lama ini. Bersama sejumlah tokoh adat lainnya, Mustafa menari Kebandaran yang merupakan tarian kehormatan untuk marga daerah Bandar, yakni Bandar Mataram, Bandar Suarabaya, bandar Buyut, dan Bandar Terbanggi.

Mustafa terlihat lihai melakukan gerakan-gerakan tarian tersebut. Dengan mengenakan pakaian adat kebesaran Lampung, pasangan dari Loekman Djojosoemarto ini menari dalam acara pemberian adat salah satu tokoh masyarakat setempat, Juanda

"Kita harus bangga dengan adat istiadat yang kita miliki. Kebudayaan yang sudah ada harus terus kita lestarikan. Kalau bukan kita siapa lagi? Jangan sampai adat istiadat kita punah karena karena minimnya kepedulian kita," ungkapnya.

Dia menambahkan, di tengah panasnya dunia perpolitikan Indonesia saat ini, dibutuhkan upaya pelestarian budaya yang nantinya diharapkan bisa menjadi alat pemersatu bangsa. Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan perbedaan atau keberagaman sebagai potensi yang perlu dilestarikan, bukan sebagai alasan untuk memecah belah persatuan.

Ia menilai, pelestarian budaya penting dilakukan untuk mewujudkan masyarakat yang beradab, beradat dan bangga dengan budayanya sendiri. Lampung Tengah sendiri, kata dia, merupakan kabupaten dengan nilai historis yang tinggi. Asal muasal pemerintahan Lampung dimulai dari kabupaten yang dikenal dengan Jejamo Wawai ini.

"Nilai historis ini harus kita jaga dan kita lestarikan. Di Lampung Tengah ini juga lahir kerajaan sembilan jurai siwo. Kerajaan-kerajaan ini akan kita hidupkan kembali, sehingga sejarah adat dan kebudayaan Lampung lestari. Saya harap Lampung Tengah bisa menjadi pusat atau destinasi sejarah kebudayaan di Lampung," paparnya.

Sementara itu, Tokoh Adat Buyut, Rusli Yanto menuturkan begawi kali ini merupakan pemberian adat Suttan Pesirah Migo kepada Juanda, salah satu tokoh adat buyut. Ada empat tahapan dalam pemberian adat, yakni merwatin, rapat adat, turun mandi dan mepadun.

Dalam acara itu, juga hadir ratusan muli aris yakni anak-anak gadis dari penyeimbang. Mereka menari mepadun untuk memeriahkan acara begawi.

"Kami apresiasi sekali dengan kehadiran pak bupati, ini menjadi bukti atas kepedulian beliau terhadap pelestarian adat istiadat asli Lampung Tengah. Jika pemimpin punya kepedulian terhadap kebudayaan, kami optimis adat istiadat Lampung bakal terus lestari," katanya.

Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada Bupati Mustafa yang telah memberikan bantuan Rp. 500 juta untuk bisa merehab gedung Sesat Agung Bandar Buyut, telatnya di Buyut Udik dan Buyut Ilir. Bantuan juga diberikan untuk memperbesar gedung Sesat Agung.

"Terima kasih atas perhatiannya terhadap pelestarian adat istiadat Lampung. Mudah-mudahan kebudayaan Lampung kita semakin lestari dan semakin dikenal masyarakat luas di Indonesia," pungkasnya.(r)

Posting Komentar