Lampung Tengah : Harga singkong yang tak kunjung membaik dalam beberapa bulan terakhir, membuat Bupati Lampung Tengah DR. Ir. Mustafa terus berupaya mencari solusi agar petani tidak merugi.

Tak hanya memperjuangkan suara rakyat ke Menteri, Mustafa juga akan menggerakkan petani singkong untuk mengolah singkong menjadi beras, sehingga memiliki nilai ekonomis tinggi.
Produk yang sudah dibuat yakni nasi tiwulku, beras siger dan berasku sehat yang merupakan produk inovasi technopark dengan bahan dasar singkong dan jagung. Beras sehat ini merupakan hasil penelitian mendalam dari badan pengkajian dan penerapan teknologi (BPPT) Kampung Selusuban Kecamatan Seputih Agung.

Dengan produksi 1 ton per harinya, Mustafa berjanji akan menggenjot penjualan beras singkong asal Lampung Tengah lebih luas lagi. Petani, kata dia, juga akan diberikan pelatihan untuk bagaimana memproduksi beras singkong dan olahan lainnya. Ia meyakini, beras singkong menjadi alternative efektif mengatasi anjloknya harga singkong saat ini.

“Selama ini petani menjual singkong mentah ke pabrik. Ketika harganya anjlok, petani seolah tak punya harapan dan akhirnya berimbas pada ekonomi mereka. Kini sudah saatnya petani berinovasi dengan membuat olahan yang lebih variasi, menarik dan mempunyai nilai jual yang lebih baik,” ungkap Mustafa saat meninjau pengelolaan beras singkong, Senin, (30/1/).

Ia berjanji akan memasarkan beras singkong ini ke pasar yang lebih luas lagi bahkan eksport ke luar negeri. Pemasaran akan dimulai di mini market-mini market local, provinsi dan dilanjutkan dengan mendorong menteri perdagangan untuk bisa membantu pemasaran keluar negeri. Dengan manfaatnya yang besar, Ia optimis beras singkong ini bisa diterima di pasaran.

Dengan kadarnya yang rendah karbohidrat, dijelaskan bupati muda ini, beras singkong sangat cocok bagi orang yang ingin diet karbo. Beras ini juga aman bagi penderita diabetes karena rendah gula.
“Kandungan beras singkong sangat cocok bagi orang yang ingin gaya hidup sehat. Karbohidrat rendah, bebas kimia dan aman bagi penderita diabetes. Bagi yang obesitas sangat cocok mengkonsumsi beras ini,” paparnya.

Nantinya produksi beras olahan singkong ini akan ditingkatkan dan dikenalkan di kalangan petani. Kedepan Pemkab Lampung Tengah bekerjasama dengan BPPT akan melakukan pelatihan kepada petani-petani agar dapat mengelola singkong dengan nilai ekonomis yang tinggi. Dengan itu anjloknya harga singkong tak lagi menjadi masalah bagi petani.

Sementara itu, Tenaga Fungsional Perekayasa Masda BPPT Sigit Setiada menerangkan, beras ehatku merupakan produk pangan inovatif berbahan utama jagung dan ubikayu yang diolah sedemikian rupa menjadi makanan alternative pengganti beras.

Hal ini sesuai dengan kuntur atau kondisi masyarakat Lampung Tengah yang sebagian besar menanam singkong, produksinya mencapai 8 juta ton per tahun.

“Kami membuat inovasi pangan sesuai dengan demografi penduduk. Lampung Tengah penghasil singkong terbesar di Indonesia, tentunya ini harus diimbangi dengan inovasi-inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Beras jagung diharapkan bisa menjadi solusi dan pasar bagi petani singkong di Lampung Tengah khususnya disaat harga singkong anjlok,” pungkasnya.(r)

Posting Komentar